Sejarah

LEGENDA DESA PANGKALAN

Menurut berbagai sumber yang dapat kami himpun dan rangkum, bahwa keberadaan Desa Pangkalan yang terdiri dari tiga(3) dusun,yakni Dusun Pangkalan, Tangkis dan Gentang terbentuk semasa zaman kolonial Belanda.

Pada masa zaman penjajahan kolonial Belanda,para pejuang kemerdekaan yang berjuang bersama relawan serta tokoh-tokoh agama setempat yang menamakan diri “HISBULLAH”, dimana dipimpin oleh seorang tokoh agama yang bernama H.BUSRO dengan gigih berjuang melawan penjajah.Adapun rumah yang dijadikan markas serta dapur umum adalah rumah milik warga yang bernama Ibu MUKINAH, yang sekarang masuk wilayah Dusun Pangkalan RT 03 RW 02.Pada masa itu,logistik atau makan disebarkan hanya sampai wilayah Gentang dan Tangkis.

Disebabkan para relawan yang singgah diwilayah Gentang itu sering menantang para penjajah, maka setelah Indonesia merdeka, wilayah tersebut diberi nama “Dusun Gentang”.

Pada suatu waktu, tentara Belanda  bergerak dari Desa Gubug melewati wilayah Gentang dengan menaiki kereta api ( yang sekarang masuk wilayah Mojoagung dengan rel Karangjati),pejuang Hisbullah memilih bergerak mundur dan singgah diwilayah Tangkis.Dari sinilah para pejuang merancang strategi untuk menangkis rencana serangan penjajah Belanda, sehingga wilayah tersebut diberi nama “Dusun Tangkis”.Dari wilayah Tangkis inilah para pejuang Hisbullah merakit bom serta mengendalikan peledakan rel kereta api yang akan dilewati penjajah Belanda.

Namun, rencana agak meleset dari target, “STELLENG”( bahasa belanda,yang berarti Jebakan ) meledak lebih awal sebelum kereta sampai titik yang direncanakan,yaitu jembatan Desa Rawoh.Hal inilah yang membuat Belanda marah besar dan ingin menggempur markas para pejuang.Belanda berencana akan menggunakan kekuatan darat,mereka merangkak dari Desa Gubug dengan kekuatan yang cukup besar.

Dengan usaha dan do’a yang luar biasa dari para pejuang,rencana Belanda yang ingin menggempur Desa Pangkalan gagal total, sehingga mereka kembali ke Gubug. Adapun usaha lahiriahnya yaitu seluruh pepohonan sepanjang Desa Mojoagung ( Dusun Truko ) ke selatan sampai melewati rel,ditebang semua dan diletakkan malang melintang di jalan,sehingga Belanda tidak bisa lewat dan harus putar balik.

Sampai akhirnya proklamasi kemerdekaan dikumandangkan oleh Presiden Republik Indonesia yang pertama,beliau bapak Ir.Soekarno pada tanggal 17 Agustus 1945. Sejak itulah seluruh masyarakat khususnya Desa Pangkalan menyambut dengan gegap gembita dan bersuka ria.

 

Tokoh-tokoh yang berjuang di Desa Pangkalan yakni beliau simbah KARTOYUDHO ( YUDHO WANING PATI ),yang makamnya di Tempat Pemakaman Desa wilayah selatan  ( makam Sentono). Sedangkan tokoh agama yaitu beliau Kyai ABDULLAH,makamnya dibelakang Masjid Jami Desa Pangkalan( Baitul Muttaqin ).

(Gb.Makam Kyai Abdullah)

Adapun pimpinan desa ( Kepala Desa ) yang pertama dipimpin oleh beliau bapak NASRAN ( KARTODIPURO ),yang mana petilasannya berada di belakang SD Negeri 1 Dusun Pangkalan.

(Gb.Makam simbah Yudho Waning Pati)

Selain itu terdapat juga petilasan sumur tua yang pada masa itu digunakan sebagai sumber seluruh kegiatan,dari minum,mencuci serta untuk pengairan tegal ( istilah sawah kering),diantaranya Sumur Ngundung yang letaknya di selatan Makam Sentono, Sumur Brumbung,Sumur Bulu serta Sumur Gombang yang sampai saat ini masih bisa dimanfaatkan untuk warga khususnya wilayah Dusun Tangkis.

(Gb.Sumur Gombang,Tangkis)

Untuk mengenang para pejuang,atas inisiatif Kepala Desa waktu itu,dibuatlah nama-nama jalan dengan mengambil nama para pejuang.Yakni terdapat nama Jalan Bulusari yang saat ini masuk wilayah RW 01, Jalan Sentono dalem          ( wilayah RT 06 RW 02), Jalan Kudo Rahayu ( wilayah RT 01-03 .Rw 02).

(Gb. Makam mbah cikal bakal Desa Pangkalan)

MASA KEPEMIMPINAN KEPALA DESA PANGKALAN
NO NAMA TAHUN MEMIMPIN
1 NASRAN (KARTODIPURO) WAFAT TH.1965
2 SOWARTO 1967 – 1976
3 SUPIRDJAN ( Pjs ) 1976 – 1978
4 SOWARTO 1978 – 1987
5 SUPIRDJAN ( Pjs ) 1987 – 1989
6 SUDIRO 1989 – 1997
7 SUDIRO 1997 – 2005
8 SUPIRDJAN ( Pjs ) 2005 – 2007
9 HERU KRISTIONO 2007 – 2013
10 MULYONO 2013 – 2019

( Sumber : Bp.Supirdjan,mantan sekdes;31/10/2018 )